CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Rabu, 27 Agustus 2014

Untitled

Sudah berapa lama waktu berlalu?
Ku pikir aku sudah cukup berdamai dengan masa lalu
Tapi ternyata ketika kita bersinggungan kembali di suatu waktu
Aku belum bisa

Kamu tau?
Aku baru saja melakukan perjalanan singkat,
Bertamasya ke masa lalu

Ah, tulisan-tulisan itu
Aku benar-benar tidak menyangka
Apa yang merasuki ku menuliskannya

Beruntungnya, kamu tidak bisa menemukannya di sini
Seberapa keras pun kamu mencarinya
Biarlah tulisan itu tersegel dalam binder hijau lusuh
Cukup aku dan Allah yang tau

Selamat tengah malam, kamu.

Kamis, 21 Agustus 2014

I Only See You


Bukan, kali ini judul di atas bukan judul drama yang mau ku ceritain, tapi judul salah satu original soundtract-nya. Judul drama yang baru-baru ini ku tonton "You're All Surrounded". Sial, drama yang satu itu membuatku rela streaming menghambur-hamburkan kuota sebanyak 10 episode. Untungnya ada kerjaan lain yang membuatku bisa mengerem saat itu, dengan dalih selesai review 1 chapter baru boleh nonton 1 episode.

Awalnya gegara males ngerjain tugas yang sudah lama tertunda itu, iseng-iseng browsing drama 2014 apa sih yang seru, biar sekiranya mood nugas di saat liburan nambah. Kebayang ga sih, setelah ujian take home DM, masih ada tugas lain yang harus ku selesaikan dalam liburan kali ini, belum lagi urusan-urusan lain. Tingkat tiga ini berasa banget masa 'keemasan' kuliahnya, organisasinya, passionnya. Hectic. Semua-muanya mengambil alih sebagian waktu yang sebelumnya bisa dipake buat hobi, main-main, baca novel, maraton drama, dkk. Semester kemaren hampir ga ada nonton drama, baru sempat pas liburan ini, itupun bersyarat. Well, dinikmatin aja lah, emang udah sampe masanya. Tahun depan wisuda. Aamiin ya Allah.

Back to topic. Well, untuk memastikan drama yang katanya recomended aku putuskan nyoba nonton 1 episode dulu. Eh, taunya keterusan di first try.
You're All Surrounded !
Seperti judulnya, drama ini berbau kepolisian, tepatnya tentang empat detektif rookie di Unit Kejahatan Kriminal, Stasiun Gangnam. Mereka awalnya ga antusias sama pekerjaan mereka, mereka bergabung hanya karena alasan personal masing-masing. Atasannya pun Seo Pan-seok, sempat  menolak keempat rookie ini menjadi subordinatnya. Mereka selalu membuat masalah, hingga akhirnya ada satu kasus yang berhasil mereka selesaikan dan membuat atasannya bersedia menjadikan mereka anak didiknya. Lama kelamaan mereka mulai antusias menjadi detektif, mereka memiliki semangat untuk mengejar kriminal di setiap kasus mereka sampai ke akarnya.

Bener-bener seru dramanya. Pas nonton episode awal-awal bener-bener dibuat penasaran sama kasus 11 tahun lalu Detektif Eun Dae-gu (Lee Seung-gi). Ada apa sih sebenernya. Apa yang sebenernya terjadi. Siapa yang jahat. Dan di akhir benar-benar kejutan yang menyakitkan. Aaah, kasian banget sih kehidupan Detektif Eun itu. Kasian oppa yang satu itu. Tapi aku suka karakternya di sini, cool, punya photographic memory, dan kinda sweet :3 Kayaknya aku sering deh nonton dramanya, Brilliant Legacy, My Girlfriend is Gumiho, King 2 Hearts, Gu Family Book dan semuanya bagus. Lalalala~

Alasan lain yang membuatku lanjut setelah nonton episode pertama adalah Park Tae-il (Ahn Jae-hyun). Tau oppa ganteng di My Love from the Star? Bukan Kim Soo-hyun, yang satunya lagi. Nah yang itu. Imejnya di drama ini kasian juga, masa jadi g*ay. Hahaha. Trus agak familiar sama Seo Pan-seok, ternyata pernah liat di Athena. Kalo Go Ara aku baru kali ini liat dramanya.

Overall, untuk drama yang satu ini aku juga setuju recomended. Btw, aku berhasil meracuni beberapa orang inferens untuk nonton drama ini wkwkk. Terakhir, karena sudah mau ganti hari dan besok pagi-pagi udah ada rapat, postingan kali ini ku tutup dengan OST favorit, sesuai judul postingan ini. Selamat menyimak :3


Cara Hemat Punya TV

Berawal dari nyokap mau beli TV buat dipasang di ruang depan atau di (mantan) kamarku yang sekarang berubah jadi kamar tamu. Karena TV yang satunya ditaroh di ruang tengah, mungkin membuat tamu/keluarga yang baru segan bergabung untuk nonton. Begitulah hipotesis kasarnya. Tapi ya seperti biasa, proposal beli barang baru ga pernah mudah lolos di tangan bokap, kecuali bener-bener urgent dan beliau yang memerlukannya. Nice kan, padahal pake uang nyokap, tapi kalo surat izin ga terbit, ya mau gimana lagi.

Tapi nyokap belum nyerah nambah TV. Kebetulan inget punya LCD monitor 17" yang teronggok di kamar adek. Berhubung semua udah punya laptop, nasib komputer di rumah memang mengenaskan. Dulu inget banget transformasi komputer di rumah dari zaman PCnya masih tidur sampai berdiri tegak, trus monitornya juga dari yang tabung perlahan menipis. Bener-pener penuh sejarah. Pfft.

Dulu kakak pernah nonton TV dari komputer, kemudian nanya-nanyalah nyokap ke kakak, dan ya, dapetlah nama sebuah alat yang bisa bikin kita nonton TV dari komputer, yakni TV Tuner. Berhubung yang pengangguran di rumah waktu itu aku, jadilah nyokap minta temenin ke toko komputer. Walaupun ga yakin ada yang jual alat tadi di Banjarbaru, kami tetep berangkat.

Sore itu beberapa toko komputer kami datangi. Di toko pertama ternyata ada, lumayan besar sih tokonya, tapi penjualnya kurang meyakinkan, jadi angkat kaki deh nyari toko lain. Di toko berikutnya ga ada, toko selanjutnya tutup, lanjut ke toko komputer lain, masih di deretan jalan yang sama. Wah, kota ini ternyata sudah lumayan berkembang. Alfam*rt menjamur dimana-mana, bahkan sampai di jalan-jalan kecil. Mungkin tahun depan pas aku pulang bakal ada temen sepermainannya kali ya di sebelah atau di seberangnya -_- *ups maaf OOT.

Lanjut, hari semakin sore, di toko yang kami datangi terakhir ternyata alatnya ada. Lengkap lagi dan penjualnya meyakinkan. Ternyata TV Tuner itu jenisnya beda-beda, tergantung mau dipake di LCD atau laptop. Kalo mau nonton TV di laptop bentuknya kayak modem yang dicolok itu, dan yang kami beli buat LCD bentuknya kurang lebih kayak gambar di bawah ini.


Aku ga terlalu inget mereknya apa, tapi harganya lumayan terjangkau kok. Cukup 200ribu udah bisa punya TV. Hemat kan, tinggal memanfaatkan LCD/monitornya di rumah. Cara make TV Tunernya juga gampang, baca aja petunjuknya, pasti bisa. Daripada komputernya jadi sarang laba-laba, mending dijadiin TV :D Kalo harddisknya masih bagus juga bisa dimanfaatkan, tinggal beli boxnya, jadi deh harddisk eksternal, kayak punya adek. Recycle teknologi. Kalo masih bagus, yuk mari barang-barangnya dimanfaatkan, daripada dijual kiloan di tukang besi. Cuma dapet berapa coba sekarang?

Selasa, 05 Agustus 2014

Yeh Jawaani Hai Deewani


Yeh Jawaani Hai Deewani (English: This Youth is Crazy). Ini bakal jadi film India pertama yang ku review di sini :D Sebelum-sebelumnya ada banyak film Bollywood yang bagus, kayak 3Idiots, My Name is Khan, Taare Zameen Par dan lain-lain. Tapi berhubung habis nonton film-film itu mungkin lagi ga luang, jadinya ga bikin deh reviewnya. Selera filmku emang kadang multigenre, multinational, jadi harap maklum ya review filmnya random hehehe.

Film Bollywood itu walaupun durasinya rata-rata di atas 2 jam dan banyak adegan nyanyian plus tariannya yang heboh gitu kadang ada juga yang worth buat ditonton. Sejujurnya kalo era film India yang baru jarang ngikutin, kadang banyak ga sukanya, mending nonton ulang film-film lamanya deh, kayak Kuch Kuch Hota Hai, Kabhi Khushi Kabhi Gham, Mohabbatein, dkk. Tapi untuk film baru yang satu ini kasih jempol deh :D

Film ini diawali dengan flashback cerita perjalanan Naina 8 tahun yang lalu ke Kullu dan Manali, sebuah puncak gunung setinggi 16.000 dpl. Naina yang kuper dan yang kerjaannya selama ini hanya belajar, nekat ikut trip tersebut di saat-saat terakhir, dan di trip yang sama juga ada geng Aditi, Bunny, dan Avi yang merupakan teman SMAnya dulu. Tripnya seru. Awal-awalnya pas nonton ini bareng kakak setuju deh kami berasumsi ini 5cm versi India. Wkwkk. Tapi puncak bersaljunya kereeen. Perjalanan inilah yang sukses mengubah kehidupan Naina si Tekun dan membuatnya mendapat teman-teman baru yang menyenangkan. Walaupun dia pada akhirnya gagal menyatakan perasaannya.

Perjalanan tersebut diakhiri dengan berita bahwa Bunny mendapat beasiswa kuliah Jurnalisme di Chicago. Bunny yang suka bersenang-senang dan menggoda gadis-gadis itu pun ternyata bisa serius mengejar impiannya untuk berpetualang mengelilingi dunia. Tawaran beasiswa itu akan membuatnya semakin dekat pada impiannya dan teman-temannya pun menyuruhnya pergi dengan berat hati, karena berarti masa bersenang-senang mereka bertiga sudah selesai, mereka harus mulai berpikir dewasa mengenai kehidupan mereka masing-masing, bukan hanya sekedar bersenang-senang.

Sudah lima tahun lebih Bunny tidak kembali ke India. Ia sudah berhasil mengelilingi separuh dunia kala itu. Terakhir di ceritakan saat ia meliput di Paris. Aaah, keren lah pokoknya. Film yang bercerita tentang perjalanan kayaknya selalu ku sebut keren ya. Haha. I love travelling. Entah sejak kapan dan ga sadar udah jatuh cinta aja sama yang namanya travelling :3 Maaf oot hehe okee, back to review.

Saat di Paris itulah Bunny mendapat undangan pernikahan Aditi dalam bentuk video. Untuk sahabat baiknya itu tentu ia memutuskan kembali ke India. Selanjutnya bercerita tentang rangkaian pernikahan Aditi yang berhari-hari. Heboh banget ya ternyata pernikahan versi India. Di sela-sela acara itu juga terselip berbagai kejadian. Bagaimana hubungan Bunny dan Avi yang sempat retak. Pengangum rahasia Naina. Perjalanan Bunny dan Naina saat di Udaipur dan perdebatan mereka tentang indahnya menetap di rumah dan menjelajah berbagai tempat. Di akhir perjalanan itu, Bunny kemudian bercerita tentang mengapa tiga tahun lalu ia tidak kembali ke India saat Ayahnya meninggal. Saat itu ia sedang trip bersama 24 orang dalam acara Trek Amerika dan hpnya tidak berfungsi dengan baik. Ketika Ayahnya meninggal hari Senin, ia baru tau hari Sabtu. Betapa sedihnya kalo sedang di luar negeri dan ga sempat mengucapkan salam terakhir untuk orang tua :"

Hmm hubungan Bunny dan Naina pun makin dekat. Mereka menyatakan cinta satu sama lain, tapi mereka tidak bisa bersama, karena Naina ingin menetap, tidak bisa meninggalkan keluarganya dan kliniknya yang semua ada di India, sementara Bunny tetap ingin melanjutkan pekerjaannya di Paris. Naila pun merelakan cintanya pergi lagi, membiarkan Bunny melanjutkan mimpinya. Tapi bagaimana dengan Bunny? Apakah dia akan memilih mempertahankan Naina atau impiannya? Silahkan temukan jawabannya sendiri. Hehehe.

Pesan moral yang bisa diambil, selesaikanlah urusan kita masing-masing, aku pada jalanku, dan kamu tetap pada jalanmu. Dan ketika kita saling menemukan, semoga kita sudah selesai dengan urusan kita masing-masing. Jika tidak, silahkan memilih apa yang pantas untuk kamu pertahankan, mimpimu atau aku *eh :)

Selagi masih muda, semangatlah mengejar mimpimu, tambah pengalaman sebanyak-banyaknya agar di kemudian hari tidak ada penyesalan tentang apa yang tidak kamu lakukan sekarang. Okee, selamat malam kamu :)

Kamis, 31 Juli 2014

Kandas :"


Ah, harapan yang satu itu pun akhirnya kandas. Liat tanggalan di website sebelah bikin mau nangis guling-guling. Makasih yang udah bikinin jadwal. Bagus banget ya, kompak banget deh kalian nentuin tanggal :" Aku yang terlibat melibatkan diri di kedua acara penting itu terpaksa harus mengorbankan salah satunya, yang udah diperjuangkan.

Sedih? Banget. Gimana engga. Padahal hari ini harusnya salah satu kategori 'menyenangkan', habis keliling ke rumah guru-guru SMANSA bareng Lamda plus satu orang penumpang gelap. Trus met up bareng 9B. Tapiii, tanggalan yang satu itu sukses bikin mood jungkir balik.

Seriously, ga enak banget rasanya harus 'kabur' di acara yang mana kamu jadi panitianya. Pengen banget ga ketinggalan acaranya. Sayang, apalagi liat speakernya kece-kece. Serius mau diskip gitu aja? Sebenernya engga, tapi mau gimana lagi. Ada kontrak ga tertulis yang udah mengikatku. Bisa-bisa kena blacklist kampus kalo coba-coba mengundurkan diri. Tapi sama sekali ga terbesit mengundurkan diri sih, mau jadi apa nanti? Bener-bener jadi butiran debu. Ga punya muka lagi deh ikut event sejenisnya :"

Jangan. Ya, jangan lakukan hal aneh-aneh. Selesaikan apa yang sudah kamu mulai. Oke? Selesaikan apa yang sudah kamu perjuangkan. Jakarta-Bogor deket kan, bisa lah ya diusahakan mengejar dua-duanya. Sebisa mungkin dengan usaha terbaik. Semangaaaaat \m/

Well, let we see. Semoga ga 'dikarantina' tanggal segitu. Semoga ini cuma imajinasi berlebihanku. Semoga. Selamat tinggal random midnight talking. Mari ber-positive thinking ria :')

Sabtu, 12 Juli 2014

PKL-things: Jalan-jalan

#verylatepost

PKL ga lengkap rasanya tanpa jalan-jalan :p Setelah mengemban tugas besar mengumpulkan data yang jujur dan apa adanya, boleh dong ya mencuri waktu barang sebentar buat refreshing *pembenaran sepihak :D

Jadi, hari itu (29/04/2014) anak-anak BL ngajakin jalan ke pantai. Ah, bener-bener angin segar di hari terakhir pencacahan. Pantai, uyeah. Kalo jalan-jalan semangatnya emang beda haha. Demi jalan bela-belain beli kaos tangan, padahal sisa sehari di Lampung, tangan udah kepalang gosong.

Boncengin Dinar

Berangkat-berangkat gatau pantai apa yang mau dituju, kirain Pantai Mutun. Pasang Go*gle Map, ternyata rombongan membawa ke jalan yang berbeda, ya udah deh kami hanya mengikuti arus. Jauuuh banget jalannya, jelek pula, banyak lubang-lubangnya. Lama-lama aku sampe cape nge-gas terus, rasanya pengen dibonceng aja -_-

Seteleh naik-turun gunung, akhirnya sampai juga. Pantainya udah mulai keliatan, jadi semangat lagi :3 Namanya kalo ga salah Pantai Ringgung. Di sini nih bisa ngerasain sholat di atas mushola terapung. Ada Mesjid Apungnya juga di tengah pantai.

Pantai Ringgung

Ba'da ashar kami menyebrang ke tujuan (re: Pasir Timbul), tapi sayang ternyata pasirnya udah ga timbul lagi karena airnya sudah mulai pasang. Akhirnya kami merapat ke pulau tetangganya yang entah namanya apa.

Teman sepenyebrangan :D

Ohiya, ka Inda ga ikutan nyebrang, takut mabok katanya. Kebetulan ada keluarga asuhnya juga ikutan nyusul ke Pantai Ringgung. Aku juga heran waktu itu tiba-tiba Bang Firman sama Pipit udah ada aja di sana. Ka Inda cepet banget dapet keluarga asuh di pulau orang xD

Pantainya masih biru :3
Sayang udah sore, jadinya ga main aer.

Menjelang sunset :3

Pantainya cantik. Ga rugi deh udah bersusah-payah ke sana. Semoga pemerintah sana terketuk membetulkan sarana dan prasarana di sana, terutama jalannya. Sayang kan kehilangan kesempatan salah satu objek wisata yang lumayan menjanjikan, apalagi Pasir Timbulnya. Pas liat foto-foto mereka yang berhasil ke Pasir Timbul bikin envy. Seriusan. Apalagi yang udah ke Teluk Kiluan liat lumba-lumba. Aaah, super duper envy deh pokoknya. Lain kali mesti main lagi ke Lampung \m/

Minggu, 06 Juli 2014

PKL-things: Pencacahan

25 April 2014
Hari ini sebenernya udah mulai pencacahan. Tapi tim 16 paginya masih sibuk ngerapiin kuesioner, bantuin kortim narik sampel. Sekalian ngeliatin yang jadi responden enak-enak ga orang-orangnya. Trus kalo dapet yang susah, ganti tanggal penarikan sampelnya *eh. Hahaha. Ternyata ga bisa begitu bung, setelah dapet cerita-cerita dari Nuri kami memutuskan jadi anak baik-baik dan memakai tanggal hari itu juga, siapapun respondennya. Pasrah dengan angka TAR dan kelipatannya.

Hari sudah semakin sore. Agak-agak males juga berangkat, kepalang tanggung. Tapi aku ada ide buat gladi kuesioner pekerjaan di BSku. Berdua-berdua. Latihan sekalian biar nyiapin strategi gimana pencacahan besoknya. Responden yang ku pilihkan tentu Ibu Maisaroh. Pas banget ibunya jadi responden, ada alasan deh buat mampir ke tempat ibunya lagi :3

26 April 2014
Yosh. Karena hari sebelumnya udah latihan, hari itu kami mulai sendiri-sendiri mencar ke responden masing-masing di BSku. Aku nyoba-nyoba kuesioner usaha dan ternyata dua usaha pula di rumah tangga itu. Salah banget milih kuesioner pertamanya. Baru satu akhirnya yang dapet datanya. Trus kami evaluasi deh di sana, kebetulan ibunya punya warung.

Versi serius

Tiara-Aku-Dinar-Ka Inda