CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sabtu, 31 Maret 2018

Museum MACAN

The Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara. Museum pertama di Indonesia yang memiliki koleksi seni modern dan kontemporer. I just knew CEO-nya sangat muda, setelah membaca artikel dalam majalah salah satu maskapai penerbangan edisi Maret.

Let's going back to how I came to the museum. There was a childhood friend of mine who was trained in Jakarta. She wanna go to the museum and yeah tentu saja saya tidak menolak. Janjian berangkat pagi-pagi di weekend jarang berhasil memang. Ditambah drama ketinggalan bus transjakarta. Wkwkk. Fyi, museum ini bisa ditempuh dari Bidara Cina dengan mengambil rute ke Harmoni, lalu transit dan mengambil rute Lebak Bulus, turun di halte Kebon Jeruk BPK 6. Waktu tempuh total sekitar 1,5 jam.

Kami tiba di Gedung AKR ketika matahari sudah lewat di atas kepala. Kami pun langsung naik menuju level MM dan mengantri untuk membeli tiket museum. Antrian cukup panjang. Jika kalian minat berkunjung ke museum ini, baiknya beli tiket online dulu dan pilih jam paling pagi. Sistem masuk museum per dua jam, kami kebagian tiket jam 14.00-16.00. 

Beginilah antrian mengular masuk museum

So, mulai mengantrilah misal setengah jam sebelum jam yang tertera di tiket, apalagi weekend. Makin pagi makin baik, agar tidak tenggelam dalam lautan antrian.

Museum ini menyuguhkan 90 dari 800 karya seni koleksi founder selama 25 tahun. Salah satu karya seni yang menjadi daya tarik pengunjung adalah "Infinity Mirrored Room". Kami memutuskan berkeliling dahulu sebelum mengantri (lagi) menuju karya seni favorit yang satu itu.

Sudut kontemplasi favorit
"There are so many naive people sacrificing for you, but you are still unhappy."
Jujur, saya sangat menikmati tur museum ini. Rela berjam-jam mengitari satu per satu karya seni, walau tidak sepenuhnya mengerti makna karya seni tersebut. Terdapat penjelasan pada beberapa karya seni yang cukup mengedukasi. Ruang pameran dibagi menjadi beberapa bagian, seperti "Kemerdekaan dan Setelahnya", "Pergulatan Seputar Bentuk dan Isi", dan "Racikan Global".

Penikmat seni~

Next, I will tell you about the highlight: Infinity Mirrored Room. Perjuangan menuju ruang yang terkenal itu sungguh menguji kesabaran. We stood up two hours for mere 30 seconds inside the room. Unfortunately, there is no single photo came out good. Pfft. Tips: perlu bawa kamera canggih dan jangan skip makan karena dapat berdampak limbung waktu berdiri dalam ruangan tersebut. Based on true story ini, our first ten seconds were wasted. Wkwk.

Kesimpulan: kalau datang ke museum ini di akhir pekan mending datang pagi atau malam sekalian, agar antriannya lebih tidak menguras emosi jiwa dan raga. I'd like to go to this museum again, maybe the next two months, to see exhibition of Yayoi Kusama's works.

Minggu, 04 Maret 2018

Antologi Rasa

Judul: Antologi Rasa
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia
Terbit: Agustus 2011
Tebal: 344 halaman
Tiga sahabat. Satu pertanyaan. What if in the person that you love, you find a best friend instead of a lover?
K e a r a
Were both just people who worry about the breaths we take, not how we breathe. How can we be so different and feel so much alike, Rul? Dan malam ini, tiga tahun setelah malam yang membuatku jatuh cinta, my dear, dan aku di sini terbaring menatap bintang-bintang di langit pekat Singapura ini, aku masih cinta, Rul. Dan kamu mungkin tidak akan pernah tahu. Three years of my wasted life loving you.

R u l y
Yang tidak gue ceritakan ke Keara adalah bahwa sampai sekarang gue merasa mungkin satu-satunya momen yang bisa mengalahkan senangnya dan leganya gue subuh itu adalah kalau suatu hari nanti gue masuk ke ruangan rumah sakit seperti ini dan Denise sedang menggendong bayi kami yang baru dia lahirkan. Yang tidak gue ceritakan ke Keara adalah rasa hangat yang terasa di dada gue waktu suster membangunkan gue subuh itu dan berkata, "Pak, istrinya sudah sadar," dan bahwa gue bahkan tidak sedikit pun berniat mengoreksi pernyataan itu. Mimpi aja terus, Rul.

H a r r i s
Senang definisi gue: elo tertawa lepas. Senang definisi elo? Mungkin gue nggak akan pernah tahu. Karena setiap gue mencoba melakukan hal-hal manis yang gue lakukan dengan perempuan-perempuan lain yang sepanjang sejarah tidak pernah gagal membuat mereka klepek-klepek, ucapan yang harus gue dengar hanya, "Harris darling, udah deh, nggak usah sok manis. Go back being the chauvinistic jerk that I love." Thats probably as close as I can get to hearing that she loves me.

***

Buku yang dibeli akhir tahun lalu. Namun, baru terbaca minggu lalu, saat perjalanan Cirebon. Buku yang dibeli bahkan tanpa membaca sinopsisnya, sesederhana atas rekomendasi seorang teman. Truthfully, lebih menikmati Critical Eleven dan the Architecture of Love. Awalnya ingin menambah koleksi buku Ika Natassa, tapi kayaknya buku ini mau saya jual lagi aja wkwk. Silahkan barangkali ada yang berminat :p

Buku ini bergenre metropop, yeah, genre yang jarang saya lahap. Sukses sih membuat terjaga sepanjang perjalanan di kereta, tapi ceritanya not so immersed. Sekedar numpang lewat aja. Sangat tidak sepakat dengan komentar 'membumi'. Hidup di ibukota memang berpotensi membuat hedonisme, tapi sepanjang bisa mengendalikan nafsu belanja barang-barang berlabel dan makan di tempat mewah, your financial will be fine. Percuma punya penghasilan sekian digit kalau tidak ada saving dan investment.

Well, cerita buku ini persis seperti yang bisa ditangkap pada sinopsisnya. Cinta saling silang antara para tokoh: Harris-Keara-Ruly-Denise. Kehidupan metropolis yang beyond your imagination, misal waktu Keara tetiba pengen nasi Wardani, trus ngajak Harris ke Bali (kayak ngajak ke Ancol) dan Harrisnya nurut lagi sama cintanya itu. Duh. Adalagi waktu Keara yang mengaku mengidap Cheap Food Allergy, tapi fine-fine aja waktu diajak Ruly makan di pinggir jalan. Ckck.

Baru mulai sedikit menikmati di bagian hampir akhir. Bagian terfavorit saat tur Keara-Ruly di Pasar Sukawati. Actually, I slightly ship them. Mulai excited ketika Ruly unjuk gigi. Wkwk. Sayang, pendukung unrequited love satu ini harus cukup tabah menerima ending buku ini. Don't expect too much. Pada akhirnya, mungkin sebagai perempuan lebih baik memilih laki-laki yang mencintainya ketimbang mengejar laki-laki yang dicintainya.

Rabu, 28 Februari 2018

conscience

Setelah bertahun-tahun hidup di ibukota, sore itu (23/02) mendapati diri sendiri (masih) mudah mempercayai orang lain. Orang yang bahkan baru diajak mengobrol hitungan menit sembari menunggu online transport. Saya terhitung jarang memulai pembicaraan dengan orang asing di perjalanan.

Pembicaraan sederhana dimulai dari seorang bapak yang dengan santun mengucap permisi (kepada orang yang lebih muda, which is sangat jarang ditemui) sebelum duduk di teras mushola. Lalu, berlanjut ke kereta, Argo Jati. Bapak tersebut langsung tahu saya dari Cirebon. Beliau ternyata berencana ke Cirebon karena ada keluarga yang sakit dan dirawat. Namun, karena kecelakaan mungkin batal, pulang lagi ke rumah yang lebih jauh dari Serpong (I didn't catch the town that he said).

Awalnya, saya tidak ingin bertanya kecelakaan apa. I didn't want to meddle anymore, yet I asked. Ketika mendengar cerita beliau, sebagai seseorang yang pernah mengalami kejadian serupa, it was relatable. Beliau tidak bisa naik kereta karena tidak memiliki kartu identitas, pun tidak bisa menggunakan surat keterangan dari polisi. Selain itu, tidak ada ongkos beli tiket kereta. Tidak bisa kontak orang yang dikenal, tidak ada hp (sudah diberikan ke cucu). Entah naik bus dari Pulogadung, entah menumpang truk. Miris mendengar beliau berencana jalan kaki ke Pulogadung atau pulang ke rumah.

I chose to believe him. Sebelum naik transport online, saya memutuskan minimal tidak membuat beliau berjalan kaki. Semoga, ya, semoga bapak yang Jumat lalu bertemu sudah tiba di Cirebon dan keluarganya yang sakit cepat sembuh. Saya tidak ingin menyesali kejadian seperti dulu, ketika ada orang yang terlihat tidak sehat ingin pinjam hp untuk menghubungi keluarganya.

Terkadang sulit memang mengenali mana yang beneran atau tipu-tipu. Hal termudah yang umumnya dilakukan: pukul rata tidak percaya. Namun, sebenarnya kalau mau sedikit berusaha, cukup kenali dari gaze-nya and you will know.

Rabu, 07 Februari 2018

Catatan Juang

Judul: Catatan Juang
Penulis: Fiersa Besari
Penerbit: Mediakita
Terbit: 2017
Tebal: 312 halaman

Seseorang yang akan menemani setiap langkahmu dengan satu kebaikan kecil setiap harinya.

Tertanda,
Juang
***
"Hidup ini keras, buktikan dirimu kuat. Yang membedakan pemenang dan pecundang hanya satu: pemenang tahu cara berdiri saat jatuh, pecundang lebih nyaman tetap ada di posisi jatuh." - hlm. 44
Novel ini merupakan sekuel Konspirasi Alam Semesta. Namun, bisa dinikmati secara terpisah. If you've read the previous novel, maybe you will remember 'buku bersampul merah', buku hadiah Ana untuk Juang, buku tempat Juang merumahkan pemikirannya. Well, yes, this novel about that book. Buku merah tersebut ditemukan oleh Suar secara sangat random di angkot.

Semula Suar berdalih membaca buku merah tersebut untuk menemukan informasi pemilik buku. Semakin banyak lembar catatan yang dibaca, Suar kian terjebak dengan kisah Juang. Suar pun kemudian resign, memutuskan keluar dari zona nyaman, menjemput mimpinya menjadi sineas.
"Jangan lupa bahwa manusia mempunyai mimpi-mimpi untuk diraih, bukan dibunuh atas nama tuntutan hidup. Dan jangan lupa bahwa Tuhan menciptakanmu berjalan di muka bumi ini untuk sesuatu yang baik, maka berbuat baiklah untuk sesama, melebihi kau berbuat baik untuk dirimu sendiri." - hlm. 173
Buku merah itu lalu menjadi 'obat kuat' bagi Suar. Catatan Juang sedemikian rupa related dengan kisah hidupnya, hingga ia ingin bertemu dengan sang penulis. Dalam perjalanan pra-debutnya sebagai sineas, Suar bertemu Dude sebagai salah satu narasumbernya. Pembaca buku KAS tentu aware siapa gerangan Dude. Bagi pembaca karya Bung yang baru, tak perlu khawatir, akan dijelaskan di bab-bab akhir. Kalian pun masih bisa penasaran. Tidak seperti pembaca lama yang sudah bisa menebak-nebak dengan liar. Wkwk.

Btw, I did the same thing with Suar, membawa Catatan Juang kemana-kemana, menemani setiap langkah dalam memenuhi syarat demi syarat satu goal besar bulan lalu. Menunggu tidak menjadi hal yang membosankan jika kita punya hal baik yang dilakukan. Semoga, ya, semoga sampai umur.
"Dan untukmu yang baru saja akan mulai menulis, selalu ingat ini: menulis adalah terapi. Dan kita tidak perlu melakukannya agar terlihat keren dihadapan orang lain, atau berekspektasi punya buku yang diterbitkan penerbit besar. Menulis adalah sebuah kebutuhan agar otak kita tidak dipenuhi oleh feses pemikiran. Maka, menulislah. Entah itu di buku tulis, daun lontar, prasasti, atau bahkan media sosial, menulislah terus tanpa peduli karyamu akan dihargai oleh siapa dan senilai berapa. Menulislah meski orang-orang mengejekmu. Menulislah agar kelak saat kau meninggal, anak-cucumu tahu bahwa suatu ketika engkau pernah ada, pernah menjadi bagian dari sejarah." - hlm. 198
Terkait menulis, still far away from my mentor expectation. Masih amateur aing mah. Masih perlu banyak belajar menjadi penulis yang tidak cenderung dilupakan. Yet, I will give it a try. Stop running away and write.

Jumat, 02 Februari 2018

Because This is My First Life


This is one of my favorite drama last year. Drama bergenre romance comedy ini sungguh absurd and pleasing at the same time. Ceritanya sederhana seputar keseharian, tapi menyuguhkan sudut pandang yang berbeda tentang karir, relationships, dan marriage. Sinematografinya pun apik.

Drama ini bercerita tentang Nam Se-hee (Lee Min-ki) dan Yoon Ji-ho (Jung So-min). Awalnya mereka housemates, tetiba married dengan alasan yang mungkin sulit dicerna sebagian orang, yang satu house-poor perlu tambahan pendapatan untuk cicilan rumah, yang satu homeless ingin punya tempat tinggal. Hutang rumah Se-hee baru lunas 30 tahun kemudian, tepatnya tahun 2048, itu pun dengan tambahan bayaran dari house tenant.

Kebanyakan dialog first lead male di sini dibuat datar, jadi lebih banyak main di ekspresi. Termasuk ketika proposed. He just asked, as if a daily conversation. Wkwkk. "If you have sometime..."

Selasa, 23 Januari 2018

The Book of Forbidden Feelings

Judul: The Book of Forbidden Feelings
Penulis: Lala Bohang
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2016
Tebal: 152 halaman

I wanted to say, "I would love to know your obsessions, Is it landed house, gadgets, power, domestic life, succulent plants, achievements, money, work, more likes and followers, health, validations, sex, organic food, pets, perfect selfies, children, sports, religion, relationship, minimalism, perfection, muscles, urban toys, shoes, traveling, or fame?" but nobody is prepared for that kind of question on a first date. So I said, "You look great."
***

Sudah lumayan lama mengincar buku ini. Pertama kali sentuh di Gramedia GI, kala itu dibuat tidak beranjak. Jangan mudah tertipu dengan covernya yang biasa saja. Hanya perlu waktu sebentar membaca buku ini, meresapinya yang lama. I finally bought this book during the Gramedia.com's harbolnas promotion last year.
"You’re the kind of love that
I always avoid." - page 13
It is a poetry book with the illustrations. The poems are deep and honest, but also dark and depressing. The poems use simple diction, yet complicated and meaningful.
"Mixed feeling is something you can't really explain but you know exactly how it feels. It's something interesting but you don't know exactly what the ingredients are. Pretty similar to the uneventful taste of that ugly green healthy juice." - page 16
It is a book that says a lot about what's going inside your head but you're too afraid to admit it. It will makes you contemplate.
"I want to grow up but my soul
doesn't seem to be very excited about it." - page 35
The book offers a different perspective. We as readers maybe can understand the poems better when looking at the illustrations. The illustrations are weirdly beautiful.
“Be extremely selective about which memories you want to keep.” - page 106 

Minggu, 14 Januari 2018

Breathe

Take a deep breath
Until both sides of your heart get numb
Until it hurts a little
Let out your breath even more
Until you feel like there’s nothing left inside

It’s alright if you run out of breath
No one will blame you
It’s okay to make mistakes sometimes
Because anyone can do so
Although comforting by saying it’s alright
Are just words

Someone’s breath
That heavy breath
How can I see through that?
Though I can’t understand your breath
It’s alright
I’ll hold you

Even if others think your sigh
Takes out energy and strength
I already know
That you had a day that’s hard enough
To let out even a small sigh
Now don’t think of anything else
Let out a deep sigh
Just let it out like that

Someone’s breath
That heavy breath
How can I see through that?
Though I can’t understand your breath
It’s alright
I’ll hold you
You really did a good job

source: popgasa.com

NB: Lagu Lee Hi ini menemani padat-padatnya worklife tahun lalu. Betapa menghela napas panjang terkadang diperlukan, terlebih menjelang deadline. Penting pula memberi reward pada diri sendiri atas yang sudah dilalui, misalnya dengan kalimat "It's okay to make mistakes sometimes" atau "You did a good job." Don't be too hard to yourself.