CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Selasa, 07 Oktober 2014

Time flies, people change.

06.10.2014

Udah nyaris satu dekade kenal mereka. Ya, temen-temen SD. Biasanya tiap tahun mereka rajin ngadain reuni seangkatan. Cuma tahun ini ga, pada sibuk panitianya hahaha. Akhirnya, meetup kecil-kecilan doang. Makasih udah nyulik aku gaes xD

Waktu bener-bener ga terasa udah berputar cepet ya. Dulu pertama kali kenal masih pada ingusan, sekarang udah pada wisuda. Erla sama Endah contohnya. Tahun depan aku insya Allah nyusul, Mega juga. Mereka bertiga sebelumnya udah saling kenal sejak TK. Awet banget ya sampe sekarang. Aku dulunya mah masih TK di tempat kelahiran. Baru ketemu mereka pas SD. Kalo sama Mega kenal gara-gara sekampung :D

Episode pulang ku kali ini, entah kenapa rasanya atmosfirnya beda. Mungkin asap yang menyelimuti Banjarbaru merupakan salah satu alasannya. Atau karena Idul Adha pertama di rumah semenjak kuliah. Hehehe. Entah mungkin aku tersugesti Uni, pengen nyoba Idul Adha di rumah. Dan ternyata feelnya emang beda. Berasa Idul Adhanya :3

Karena ada momen berkurban ini pula, aku jadi main ke langgar. Orang-orang sekampung pada ngumpul dan ga sengaja ketemu temen SD lainnya. Ada yang udah nimang anak, ada yang bantu-bantu penyembelihan hewan kurban. Ah, entah mereka masih mengenaliku atau engga. Aku cuma ngeliat dari jauh aja sih. But, that's true, time flies, people change. Dan sebentar lagi mungkin aku juga akan memasuki fase kehidupan yang berbeda.

Hmm habis makan kemaren, kami berempat mampir ke tempat kerja salah satu teman kami. Makasih Ayu C atas traktiran photoboxnya. Berasa cacat banget di dalam bareng mesin photobox kemaren dan beginilah jadinya.

Masing-masing kena jatah ketutupan .-.
 
Akhirnya selfie sendiri dalam box pfft

Yap, acara kemaren pun ditutup dengan main ke rumah Endah. Entah saking lamanya ga ke sana atau keasikan ngobrol di jalan, aku sama Mega melewatkan rumah Endah wkwkk. Another failed moment. But, anyway, thanks for yesterday. Semoga sukses buat kita semua ya. Semoga yang nyari kerja diterima, yang masih kuliah cepet wisuda. Semoga cepet ketemu jodohnya masing-masing. Aamiin :D

Jumat, 03 Oktober 2014

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
Kepada hujan, barangkali kita memang perlu mengucapkan terima kasih yang dalam. Hadirnya telah membuat apa-apa yang tak terungkap tetap rahasia. Karena ternyata, hujan tak hanya menghapus rintik rindu, tapi juga melarutkan kenangan-kenangan. Membawanya pergi entah ke mana, sebab laut tak pernah sanggup jadi muara buat segala. Jadilah kita tetap sendiri-sendiri­—aku sendiri, kamu sendiri. Dan tak perlu lagi kita bicara janji.
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapuskannya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
Kita pernah melangkah dan berhenti dengan irama yang sama. Kita pernah menatap bulan dari sudut yang sama. Kita jua yang menjadi sebab adanya pemaknaan-pemaknaan positif tentang jarak dan keterpisahan. Kita telah mencipta banyak pembenaran-pembenaran indah, dan itu pertanda kita ragu. Tapi hujan menghapus keraguan itu—sayangnya—bersama butir-butir cinta yang ada di sana. Sayang sekali, memang. Tapi kita bahkan tak mampu memisahkan cinta dari keragu-raguan, apalagi meninggikannya—jadi lupakan saja.
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Tidak semua apa yang kita rasa perlu diungkapkan, bukan? Sebagian rasa memang membahagiakan ketika diungkapkan. Sebagiannya lagi menentramkan bila dipendam. Boleh jadi sisanya ada untuk dilupakan. Itukah yang kini kurasakan? Kau rasakan? Dalam diam kita, hujan memang terlalu banyak bicara. Tapi bagaimanapun, sampaikanlah terima kasih yang dalam padanya, sebab—sekali lagi,—hadirnya telah membuat apa-apa yang tak terungkap tetap menjadi rahasia. Barangkali inilah cara kita menghapus rindu, membiarkannya larut bersama hujan—yang tak pernah kita tahu pasti kapan ia hadir untuk melakukannya.

Puisi oleh : Sapardi Djoko Damono (1989)

Bagian paling favorit dari novelnya Azhar Nurun Ala "Tuhan Maha Romantis" :3

Senin, 22 September 2014

Let's Be Sexy With Statistics


20-21 September lalu bener-bener berbuah kenangan manis. Alhamdulillah ya Allah, beneran ga nyangka berhasil bawa pulang piala Andi Hakim Nasution, piala juara umum untuk Kompetisi Statistika Nasional Statistika Ria IPB tahun ini :')

Sebelumnya sempet agak-agak ga rela harus mengorbankan salah satu acara yang harus didatengin demi agenda ini. Maaf banget buat kakak PO, semoga aku ga dipecat jadi panitianya berhubung sempat menghilang dari peredaran.

Semua berawal dari keisengan ikut seleksi tim SR kampus sehabis PKL. Di hari terakhir pun masih ragu daftar atau ga, tapi teringat janji setahun yang lalu, jadinya menekatkan diri untuk daftar dan lagi pula tahun ini tahun terakhir bisa ikut kompetisi ini. Keisengan pun mulai berpotensi menjadi masalah ketika dinyatakan lolos jadi Tim SR STIS 2014. Aaaa, 5 dari 6 semuanya dari jurusan Statistika, cuma aku yang nyasar dari jurusan Komputasi Statistik dan itu artinya banyak materi yang mesti ku kejar. Well, semoga ga salah pilih.

Ini juga menjadi salah satu alasan kenapa pertengahan Agustus lalu udah merelakan balik ke Jakarta, sori gengs. Tahun lalu mah tanggal-tanggal segini masih leha-leha di Banjarbaru. Kirain bakal ada pelatihan gitu dari kampus. Eh taunya H-7 baru ada dan baru intensif H-3. Tapi alhamdulillah lah udah dikasih pembekalan. Makasih buat @Forkas_STIS, khususnya Syifa dan Chandra yang udah ngurusin kami.

Ikut beginian sebenernya ceritanya biar memicu belajar statistika, susah emang kalo ga hobi belajar, pada akhirnya liburan kemaren bukannya memaksimalkan belajar, malah memaksimalkan hobi yang terhalang satu semester terakhir *plak. Dan di babak penyisihan KSN kemaren beneran berasa digampar. Keluar ruangan berasa ilmu statistika yang dipunya masih cetek abis. Perlu long-time learning, bukannya sistem kebut seminggu. Sehabis penyisihan pesimis banget, soal-soalnya ga ada yang mudah. Kelamaan mikir dan akhirnya ga sempat ngerjain semua soalnya dalam 2 jam -_-

Rabu, 27 Agustus 2014

Untitled

Sudah berapa lama waktu berlalu?
Ku pikir aku sudah cukup berdamai dengan masa lalu
Tapi ternyata ketika kita bersinggungan kembali di suatu waktu
Aku belum bisa

Kamu tau?
Aku baru saja melakukan perjalanan singkat,
Bertamasya ke masa lalu

Ah, tulisan-tulisan itu
Aku benar-benar tidak menyangka
Apa yang merasuki ku menuliskannya

Beruntungnya, kamu tidak bisa menemukannya di sini
Seberapa keras pun kamu mencarinya
Biarlah tulisan itu tersegel dalam binder hijau lusuh
Cukup aku dan Allah yang tau

Selamat tengah malam, kamu.

Kamis, 21 Agustus 2014

I Only See You


Bukan, kali ini judul di atas bukan judul drama yang mau ku ceritain, tapi judul salah satu original soundtract-nya. Judul drama yang baru-baru ini ku tonton "You're All Surrounded". Sial, drama yang satu itu membuatku rela streaming menghambur-hamburkan kuota sebanyak 10 episode. Untungnya ada kerjaan lain yang membuatku bisa mengerem saat itu, dengan dalih selesai review 1 chapter baru boleh nonton 1 episode.

Awalnya gegara males ngerjain tugas yang sudah lama tertunda itu, iseng-iseng browsing drama 2014 apa sih yang seru, biar sekiranya mood nugas di saat liburan nambah. Kebayang ga sih, setelah ujian take home DM, masih ada tugas lain yang harus ku selesaikan dalam liburan kali ini, belum lagi urusan-urusan lain. Tingkat tiga ini berasa banget masa 'keemasan' kuliahnya, organisasinya, passionnya. Hectic. Semua-muanya mengambil alih sebagian waktu yang sebelumnya bisa dipake buat hobi, main-main, baca novel, maraton drama, dkk. Semester kemaren hampir ga ada nonton drama, baru sempat pas liburan ini, itupun bersyarat. Well, dinikmatin aja lah, emang udah sampe masanya. Tahun depan wisuda. Aamiin ya Allah.

Back to topic. Well, untuk memastikan drama yang katanya recomended aku putuskan nyoba nonton 1 episode dulu. Eh, taunya keterusan di first try.
You're All Surrounded !
Seperti judulnya, drama ini berbau kepolisian, tepatnya tentang empat detektif rookie di Unit Kejahatan Kriminal, Stasiun Gangnam. Mereka awalnya ga antusias sama pekerjaan mereka, mereka bergabung hanya karena alasan personal masing-masing. Atasannya pun Seo Pan-seok, sempat  menolak keempat rookie ini menjadi subordinatnya. Mereka selalu membuat masalah, hingga akhirnya ada satu kasus yang berhasil mereka selesaikan dan membuat atasannya bersedia menjadikan mereka anak didiknya. Lama kelamaan mereka mulai antusias menjadi detektif, mereka memiliki semangat untuk mengejar kriminal di setiap kasus mereka sampai ke akarnya.

Bener-bener seru dramanya. Pas nonton episode awal-awal bener-bener dibuat penasaran sama kasus 11 tahun lalu Detektif Eun Dae-gu (Lee Seung-gi). Ada apa sih sebenernya. Apa yang sebenernya terjadi. Siapa yang jahat. Dan di akhir benar-benar kejutan yang menyakitkan. Aaah, kasian banget sih kehidupan Detektif Eun itu. Kasian oppa yang satu itu. Tapi aku suka karakternya di sini, cool, punya photographic memory, dan kinda sweet :3 Kayaknya aku sering deh nonton dramanya, Brilliant Legacy, My Girlfriend is Gumiho, King 2 Hearts, Gu Family Book dan semuanya bagus. Lalalala~

Alasan lain yang membuatku lanjut setelah nonton episode pertama adalah Park Tae-il (Ahn Jae-hyun). Tau oppa ganteng di My Love from the Star? Bukan Kim Soo-hyun, yang satunya lagi. Nah yang itu. Imejnya di drama ini kasian juga, masa jadi g*ay. Hahaha. Trus agak familiar sama Seo Pan-seok, ternyata pernah liat di Athena. Kalo Go Ara aku baru kali ini liat dramanya.

Overall, untuk drama yang satu ini aku juga setuju recomended. Btw, aku berhasil meracuni beberapa orang inferens untuk nonton drama ini wkwkk. Terakhir, karena sudah mau ganti hari dan besok pagi-pagi udah ada rapat, postingan kali ini ku tutup dengan OST favorit, sesuai judul postingan ini. Selamat menyimak :3


Cara Hemat Punya TV

Berawal dari nyokap mau beli TV buat dipasang di ruang depan atau di (mantan) kamarku yang sekarang berubah jadi kamar tamu. Karena TV yang satunya ditaroh di ruang tengah, mungkin membuat tamu/keluarga yang baru segan bergabung untuk nonton. Begitulah hipotesis kasarnya. Tapi ya seperti biasa, proposal beli barang baru ga pernah mudah lolos di tangan bokap, kecuali bener-bener urgent dan beliau yang memerlukannya. Nice kan, padahal pake uang nyokap, tapi kalo surat izin ga terbit, ya mau gimana lagi.

Tapi nyokap belum nyerah nambah TV. Kebetulan inget punya LCD monitor 17" yang teronggok di kamar adek. Berhubung semua udah punya laptop, nasib komputer di rumah memang mengenaskan. Dulu inget banget transformasi komputer di rumah dari zaman PCnya masih tidur sampai berdiri tegak, trus monitornya juga dari yang tabung perlahan menipis. Bener-pener penuh sejarah. Pfft.

Dulu kakak pernah nonton TV dari komputer, kemudian nanya-nanyalah nyokap ke kakak, dan ya, dapetlah nama sebuah alat yang bisa bikin kita nonton TV dari komputer, yakni TV Tuner. Berhubung yang pengangguran di rumah waktu itu aku, jadilah nyokap minta temenin ke toko komputer. Walaupun ga yakin ada yang jual alat tadi di Banjarbaru, kami tetep berangkat.

Sore itu beberapa toko komputer kami datangi. Di toko pertama ternyata ada, lumayan besar sih tokonya, tapi penjualnya kurang meyakinkan, jadi angkat kaki deh nyari toko lain. Di toko berikutnya ga ada, toko selanjutnya tutup, lanjut ke toko komputer lain, masih di deretan jalan yang sama. Wah, kota ini ternyata sudah lumayan berkembang. Alfam*rt menjamur dimana-mana, bahkan sampai di jalan-jalan kecil. Mungkin tahun depan pas aku pulang bakal ada temen sepermainannya kali ya di sebelah atau di seberangnya -_- *ups maaf OOT.

Lanjut, hari semakin sore, di toko yang kami datangi terakhir ternyata alatnya ada. Lengkap lagi dan penjualnya meyakinkan. Ternyata TV Tuner itu jenisnya beda-beda, tergantung mau dipake di LCD atau laptop. Kalo mau nonton TV di laptop bentuknya kayak modem yang dicolok itu, dan yang kami beli buat LCD bentuknya kurang lebih kayak gambar di bawah ini.


Aku ga terlalu inget mereknya apa, tapi harganya lumayan terjangkau kok. Cukup 200ribu udah bisa punya TV. Hemat kan, tinggal memanfaatkan LCD/monitornya di rumah. Cara make TV Tunernya juga gampang, baca aja petunjuknya, pasti bisa. Daripada komputernya jadi sarang laba-laba, mending dijadiin TV :D Kalo harddisknya masih bagus juga bisa dimanfaatkan, tinggal beli boxnya, jadi deh harddisk eksternal, kayak punya adek. Recycle teknologi. Kalo masih bagus, yuk mari barang-barangnya dimanfaatkan, daripada dijual kiloan di tukang besi. Cuma dapet berapa coba sekarang?

Selasa, 05 Agustus 2014

Yeh Jawaani Hai Deewani


Yeh Jawaani Hai Deewani (English: This Youth is Crazy). Ini bakal jadi film India pertama yang ku review di sini :D Sebelum-sebelumnya ada banyak film Bollywood yang bagus, kayak 3Idiots, My Name is Khan, Taare Zameen Par dan lain-lain. Tapi berhubung habis nonton film-film itu mungkin lagi ga luang, jadinya ga bikin deh reviewnya. Selera filmku emang kadang multigenre, multinational, jadi harap maklum ya review filmnya random hehehe.

Film Bollywood itu walaupun durasinya rata-rata di atas 2 jam dan banyak adegan nyanyian plus tariannya yang heboh gitu kadang ada juga yang worth buat ditonton. Sejujurnya kalo era film India yang baru jarang ngikutin, kadang banyak ga sukanya, mending nonton ulang film-film lamanya deh, kayak Kuch Kuch Hota Hai, Kabhi Khushi Kabhi Gham, Mohabbatein, dkk. Tapi untuk film baru yang satu ini kasih jempol deh :D

Film ini diawali dengan flashback cerita perjalanan Naina 8 tahun yang lalu ke Kullu dan Manali, sebuah puncak gunung setinggi 16.000 dpl. Naina yang kuper dan yang kerjaannya selama ini hanya belajar, nekat ikut trip tersebut di saat-saat terakhir, dan di trip yang sama juga ada geng Aditi, Bunny, dan Avi yang merupakan teman SMAnya dulu. Tripnya seru. Awal-awalnya pas nonton ini bareng kakak setuju deh kami berasumsi ini 5cm versi India. Wkwkk. Tapi puncak bersaljunya kereeen. Perjalanan inilah yang sukses mengubah kehidupan Naina si Tekun dan membuatnya mendapat teman-teman baru yang menyenangkan. Walaupun dia pada akhirnya gagal menyatakan perasaannya.

Perjalanan tersebut diakhiri dengan berita bahwa Bunny mendapat beasiswa kuliah Jurnalisme di Chicago. Bunny yang suka bersenang-senang dan menggoda gadis-gadis itu pun ternyata bisa serius mengejar impiannya untuk berpetualang mengelilingi dunia. Tawaran beasiswa itu akan membuatnya semakin dekat pada impiannya dan teman-temannya pun menyuruhnya pergi dengan berat hati, karena berarti masa bersenang-senang mereka bertiga sudah selesai, mereka harus mulai berpikir dewasa mengenai kehidupan mereka masing-masing, bukan hanya sekedar bersenang-senang.

Sudah lima tahun lebih Bunny tidak kembali ke India. Ia sudah berhasil mengelilingi separuh dunia kala itu. Terakhir di ceritakan saat ia meliput di Paris. Aaah, keren lah pokoknya. Film yang bercerita tentang perjalanan kayaknya selalu ku sebut keren ya. Haha. I love travelling. Entah sejak kapan dan ga sadar udah jatuh cinta aja sama yang namanya travelling :3 Maaf oot hehe okee, back to review.

Saat di Paris itulah Bunny mendapat undangan pernikahan Aditi dalam bentuk video. Untuk sahabat baiknya itu tentu ia memutuskan kembali ke India. Selanjutnya bercerita tentang rangkaian pernikahan Aditi yang berhari-hari. Heboh banget ya ternyata pernikahan versi India. Di sela-sela acara itu juga terselip berbagai kejadian. Bagaimana hubungan Bunny dan Avi yang sempat retak. Pengangum rahasia Naina. Perjalanan Bunny dan Naina saat di Udaipur dan perdebatan mereka tentang indahnya menetap di rumah dan menjelajah berbagai tempat. Di akhir perjalanan itu, Bunny kemudian bercerita tentang mengapa tiga tahun lalu ia tidak kembali ke India saat Ayahnya meninggal. Saat itu ia sedang trip bersama 24 orang dalam acara Trek Amerika dan hpnya tidak berfungsi dengan baik. Ketika Ayahnya meninggal hari Senin, ia baru tau hari Sabtu. Betapa sedihnya kalo sedang di luar negeri dan ga sempat mengucapkan salam terakhir untuk orang tua :"

Hmm hubungan Bunny dan Naina pun makin dekat. Mereka menyatakan cinta satu sama lain, tapi mereka tidak bisa bersama, karena Naina ingin menetap, tidak bisa meninggalkan keluarganya dan kliniknya yang semua ada di India, sementara Bunny tetap ingin melanjutkan pekerjaannya di Paris. Naila pun merelakan cintanya pergi lagi, membiarkan Bunny melanjutkan mimpinya. Tapi bagaimana dengan Bunny? Apakah dia akan memilih mempertahankan Naina atau impiannya? Silahkan temukan jawabannya sendiri. Hehehe.

Pesan moral yang bisa diambil, selesaikanlah urusan kita masing-masing, aku pada jalanku, dan kamu tetap pada jalanmu. Dan ketika kita saling menemukan, semoga kita sudah selesai dengan urusan kita masing-masing. Jika tidak, silahkan memilih apa yang pantas untuk kamu pertahankan, mimpimu atau aku *eh :)

Selagi masih muda, semangatlah mengejar mimpimu, tambah pengalaman sebanyak-banyaknya agar di kemudian hari tidak ada penyesalan tentang apa yang tidak kamu lakukan sekarang. Okee, selamat malam kamu :)