CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Rabu, 07 Februari 2018

Catatan Juang

Judul: Catatan Juang
Penulis: Fiersa Besari
Penerbit: Mediakita
Terbit: 2017
Tebal: 312 halaman

Seseorang yang akan menemani setiap langkahmu dengan satu kebaikan kecil setiap harinya.

Tertanda,
Juang
***
"Hidup ini keras, buktikan dirimu kuat. Yang membedakan pemenang dan pecundang hanya satu: pemenang tahu cara berdiri saat jatuh, pecundang lebih nyaman tetap ada di posisi jatuh." - hlm. 44
Novel ini merupakan sekuel Konspirasi Alam Semesta. Namun, bisa dinikmati secara terpisah. If you've read the previous novel, maybe you will remember 'buku bersampul merah', buku hadiah Ana untuk Juang, buku tempat Juang merumahkan pemikirannya. Well, yes, this novel about that book. Buku merah tersebut ditemukan oleh Suar secara sangat random di angkot.

Semula Suar berdalih membaca buku merah tersebut untuk menemukan informasi pemilik buku. Semakin banyak lembar catatan yang dibaca, Suar kian terjebak dengan kisah Juang. Suar pun kemudian resign, memutuskan keluar dari zona nyaman, menjemput mimpinya menjadi sineas.
"Jangan lupa bahwa manusia mempunyai mimpi-mimpi untuk diraih, bukan dibunuh atas nama tuntutan hidup. Dan jangan lupa bahwa Tuhan menciptakanmu berjalan di muka bumi ini untuk sesuatu yang baik, maka berbuat baiklah untuk sesama, melebihi kau berbuat baik untuk dirimu sendiri." - hlm. 173
Buku merah itu lalu menjadi 'obat kuat' bagi Suar. Catatan Juang sedemikian rupa related dengan kisah hidupnya, hingga ia ingin bertemu dengan sang penulis. Dalam perjalanan pra-debutnya sebagai sineas, Suar bertemu Dude sebagai salah satu narasumbernya. Pembaca buku KAS tentu aware siapa gerangan Dude. Bagi pembaca karya Bung yang baru, tak perlu khawatir, akan dijelaskan di bab-bab akhir. Kalian pun masih bisa penasaran. Tidak seperti pembaca lama yang sudah bisa menebak-nebak dengan liar. Wkwk.

Btw, I did the same thing with Suar, membawa Catatan Juang kemana-kemana, menemani setiap langkah dalam memenuhi syarat demi syarat satu goal besar bulan lalu. Menunggu tidak menjadi hal yang membosankan jika kita punya hal baik yang dilakukan. Semoga, ya, semoga sampai umur.
"Dan untukmu yang baru saja akan mulai menulis, selalu ingat ini: menulis adalah terapi. Dan kita tidak perlu melakukannya agar terlihat keren dihadapan orang lain, atau berekspektasi punya buku yang diterbitkan penerbit besar. Menulis adalah sebuah kebutuhan agar otak kita tidak dipenuhi oleh feses pemikiran. Maka, menulislah. Entah itu di buku tulis, daun lontar, prasasti, atau bahkan media sosial, menulislah terus tanpa peduli karyamu akan dihargai oleh siapa dan senilai berapa. Menulislah meski orang-orang mengejekmu. Menulislah agar kelak saat kau meninggal, anak-cucumu tahu bahwa suatu ketika engkau pernah ada, pernah menjadi bagian dari sejarah." - hlm. 198
Terkait menulis, still far away from my mentor expectation. Masih amateur aing mah. Masih perlu banyak belajar menjadi penulis yang tidak cenderung dilupakan. Yet, I will give it a try. Stop running away and write.

Jumat, 02 Februari 2018

Because This is My First Life


This is one of my favorite drama last year. Drama bergenre romance comedy ini sungguh absurd and pleasing at the same time. Ceritanya sederhana seputar keseharian, tapi menyuguhkan sudut pandang yang berbeda tentang karir, relationships, dan marriage. Sinematografinya pun apik.

Drama ini bercerita tentang Nam Se-hee (Lee Min-ki) dan Yoon Ji-ho (Jung So-min). Awalnya mereka housemates, tetiba married dengan alasan yang mungkin sulit dicerna sebagian orang, yang satu house-poor perlu tambahan pendapatan untuk cicilan rumah, yang satu homeless ingin punya tempat tinggal. Hutang rumah Se-hee baru lunas 30 tahun kemudian, tepatnya tahun 2048, itu pun dengan tambahan bayaran dari house tenant.

Kebanyakan dialog first lead male di sini dibuat datar, jadi lebih banyak main di ekspresi. Termasuk ketika proposed. He just asked, as if a daily conversation. Wkwkk. "If you have sometime..."

Selasa, 23 Januari 2018

The Book of Forbidden Feelings

Judul: The Book of Forbidden Feelings
Penulis: Lala Bohang
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2016
Tebal: 152 halaman

I wanted to say, "I would love to know your obsessions, Is it landed house, gadgets, power, domestic life, succulent plants, achievements, money, work, more likes and followers, health, validations, sex, organic food, pets, perfect selfies, children, sports, religion, relationship, minimalism, perfection, muscles, urban toys, shoes, traveling, or fame?" but nobody is prepared for that kind of question on a first date. So I said, "You look great."
***

Sudah lumayan lama mengincar buku ini. Pertama kali sentuh di Gramedia GI, kala itu dibuat tidak beranjak. Jangan mudah tertipu dengan covernya yang biasa saja. Hanya perlu waktu sebentar membaca buku ini, meresapinya yang lama. I finally bought this book during the Gramedia.com's harbolnas promotion last year.
"You’re the kind of love that
I always avoid." - page 13
It is a poetry book with the illustrations. The poems are deep and honest, but also dark and depressing. The poems use simple diction, yet complicated and meaningful.
"Mixed feeling is something you can't really explain but you know exactly how it feels. It's something interesting but you don't know exactly what the ingredients are. Pretty similar to the uneventful taste of that ugly green healthy juice." - page 16
It is a book that says a lot about what's going inside your head but you're too afraid to admit it. It will makes you contemplate.
"I want to grow up but my soul
doesn't seem to be very excited about it." - page 35
The book offers a different perspective. We as readers maybe can understand the poems better when looking at the illustrations. The illustrations are weirdly beautiful.
“Be extremely selective about which memories you want to keep.” - page 106 

Minggu, 14 Januari 2018

Breathe

Take a deep breath
Until both sides of your heart get numb
Until it hurts a little
Let out your breath even more
Until you feel like there’s nothing left inside

It’s alright if you run out of breath
No one will blame you
It’s okay to make mistakes sometimes
Because anyone can do so
Although comforting by saying it’s alright
Are just words

Someone’s breath
That heavy breath
How can I see through that?
Though I can’t understand your breath
It’s alright
I’ll hold you

Even if others think your sigh
Takes out energy and strength
I already know
That you had a day that’s hard enough
To let out even a small sigh
Now don’t think of anything else
Let out a deep sigh
Just let it out like that

Someone’s breath
That heavy breath
How can I see through that?
Though I can’t understand your breath
It’s alright
I’ll hold you
You really did a good job

source: popgasa.com

NB: Lagu Lee Hi ini menemani padat-padatnya worklife tahun lalu. Betapa menghela napas panjang terkadang diperlukan, terlebih menjelang deadline. Penting pula memberi reward pada diri sendiri atas yang sudah dilalui, misalnya dengan kalimat "It's okay to make mistakes sometimes" atau "You did a good job." Don't be too hard to yourself.

Rabu, 10 Januari 2018

short recap

2017 was hard enough. work life. love life. but, everything already passed. and you were fine. you need to be fine. always remember, "For indeed, with hardship [will be] ease." (94:5). If your problem is great, remember you have Allah, the Greatest.

Padatnya work life berbanding lurus dengan number of flights. Yet, you can still manage to travel around. It is even possible to reschedule, selama tidak ada tanggungan pekerjaan tentunya. Kalau ada, lain cerita. You may get irritated to read emails or chats; or get calls. You have no weekend. Every place can end up to be a workplace, such as hotel, train, even station when you got lost. Kadang kalau sudah jenuh, berakhir dengan cuti administrasi (fisik di rumah, work [still] must go on). Mencari uang itu tidak mudah nduk, bijaklah menggunakannya.
"Pada akhirnya, aku melepaskanmu yang ternyata telah melepaskanku lebih dulu."  - K. Aulia. R
Career or marriage? Marriage or career? Sini duduk bareng dulu biar mendengar langsung jawabannya. Haha. I never expect that someone may come too early. I think it easy to say. But truthfully I'm not brave enough, I'm not confident. Me in last year. Tidak mudah menemukan seseorang yang membuatmu sepenuhnya bersedia menceritakan segala kekhawatiranmu, sebuket rencanamu, dan sepertiga duniamu yang sulit dicerna. Namun, akan ada. Just believe Allah is the best planner, the best scenario writer.

Well, tidak ada jaminan hidup kedepannya menjadi tidak lebih sulit. Tergantung bagaimana dirimu menyikapinya, tergantung bagaimana dirimu menjalaninya, depends on how you perceive things. Brace yourself. Brace yourheart. 2018 is already running. Cheers up! May Allah guide you, always, to the straight path.

Sabtu, 06 Januari 2018

Konspirasi Alam Semesta

Judul: Konspirasi Alam Semesta
Penulis: Fiersa Besari
Penerbit: Mediakita
Terbit: April 2017
Tebal: 244 halaman

Seperti apakah warna cinta? Apakah merah muda mewakili rekahannya, ataukah kelabu mewakili pecahannya?
***
"Aku adalah seorang pesimis yang cukup optimis. Pesimis bahwa negeri ini sudah tiba pada masa yang lebih baik, sekaligus optimis bahwa negeri ini akan tiba pada masa yang lebih baik."

Buku kedua Bung yang saya baca setelah Garis Waktu. Membaca buku ini dari seorang teman yang selera bacaannya buku memotivasi katanya. Kemudian saya mengingat kembali Garis Waktu dan kilas balik, I don't think 'motivate' is the right word, inspiring maybe, perjalanan menghapus luka.

Saya baru menyadari bahwa buku ini berupa albuk, album buku. Sembari menulis review, menyempatkan mendengarkan beberapa lagu dan sepertinya saya lebih menikmati membaca lirik tersebut sebagai sajak di buku. Buku ini menjadi teman baca dalam perjalanan pulang kantor sekitar dua minggu lalu.
"Beberapa rindu memang harus dibiarkan menjadi rahasia. Bukan untuk disampaikan, hanya untuk dikirimkan lewat doa."
Buku ini bercerita mengenai petualangan seorang Juang Astrajingga yang bermuara pada Ana Tidae. Juang seorang penulis dengan nama pena Lelaki Jingga, yang menurut saya little bit tacky wkwk, padahal nama aslinya bagus.

Buku ini memiliki lebih dari satu klimaks I guess, kalau tidak ingin disebut sinetron. Jujur lebih menyukai bagian pertama buku, petualangan membuat film dokumenter Papua terutama. Saya pikir drama akan segera berakhir serampung film dokumenter tersebut. Namun, Bung memilih melanjutkan cerita dari tumor otak Ana hingga aksi relawan Gunung Sinabung. Theeen, the ending so heartbreaking guys. I can't say anything anymore.
"Masa lalu, sepahit apapun itu, bukanlah untuk dilupakan, melainkan untuk diingat dengan persepsi yang tidak menyakitkan."
Bagi yang sudah membaca Garis Waktu, mungkin agak sedikit berasa repetition. Overall, this book was good enough. Terbilang ringan untuk sastra, dengan diksi yang quote-able.

Jumat, 29 Desember 2017

Negeri sejuta pelangi

Setelah sekitar dua bulan lalu tur negeri timah, saya pun menyempatkan berkunjung ke negeri tetangganya. Negeri yang juga disebut 1001 warung kopi ini menjadi objek wisata tujuan cukup banyak orang, setelah salah satu film lokal yang diangkat dari novel berjudul sama mengambil syuting di negeri ini.

ini replika SD-nya, do you remember?

Siang itu (27/10) saya sudah tiba di TJQ. Berhubung seorang yang dituju berada di Belitung Timur, saya mesti naik travel dulu ke sana. Menunggu penuh baru travelnya jalan. Hampir satu jam travel pun berangkat. Sejuknya udara sehabis hujan sukses lift up my mood that day. Sepanjang jalan melihat hijau-hijau, memanjakan mata yang terbiasa terpapar radiasi.