CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Rabu, 31 Mei 2017

when Bandung seems nice

I always too lazy to go to Bandung actually, for kind of 'additional' job. It's good to be youth, but please, can you exclude me next time?

Well, we need to work hard, but for me 'work hard, play harder' :p So, I decided to join my senior trip, even though I don't really know the rest. Luckily, I got last ticket on same schedule with them.

We rent a car in Bandung. We went to Tebing Keraton and Maribaya. It's really nice went to somewhere green. Refresh our mind. Even when getting job in the middle, forgot it! I paid it back as soon as my playin time done :v

Maribaya's Mountain Swing*
*)Another group photos will attached later wkk.

Fyi, ticket to Tebing Keraton 12k, ticket to Maribaya 20k. Tebing Keraton is a nice-quiet-green place, but the road towards there is worst. The car can only drive up to the welcome gate. We need to get an 'ojek' for the rest cobblestone roads. Maribaya is famous-crowded-green place, even on weekdays. In Marabaya, we must pay for each 'wahana', such as Sky Tree 15k, Zip Bike 20k, and Mountain Swing 20k. The queue quite long, so we decided just took one ride. There will be a photographer who takes our pictures. And we can get soft copy with 10k for every single picture.

Time to go back to reality. Four days like errr I don't even want to described it. Skip to Saturday, please. Finally, I met one of my highschool best pal. She already moved to Sukabumi. It has been more than four years I guess last met her. Thanks for two hours of quality time. Talking bout rush, movies, series, and of course quarter-life-crisis stuff. Jangan jera dikunjungi ya wkk. See you on the top sis.

NB: Forgive my poor grammar and vocab :x

Rabu, 17 Mei 2017

Let's Eat: Ikkudo Ichi


Anyone who love Ramen should go to this place I guess. This place is one of my friend favorite. For the first try, I choose Tori Miso because the corn on the menu picture. And at the second try, I choose Ikkudo's Tori Kara. Well, spicy Ramen is so much better anyway :v

Setiap tempat punya cerita. Walau makan di tempat yang sama (bahkan di meja yang sama) dengan teman yang berbeda, sangat terasa perbedaannya. You know, bukan tempatnya yang dirindukan, melainkan orangnya. Yeah, I miss you my eating buddies. Sering-sering main Jekardah yak.

Kamis, 11 Mei 2017

Festival Ikut Bekerja

 
So excited waktu mendapat email H-4 acara #FIB2017. Betapa menunggu-nunggu acara semacam ini setelah merasakan euforia FGIM 2013 lalu. Jika berminat membaca ceritanya, silakan klik di sini.

Belakangan sudah mulai terasa sulitnya mencari teman main, mungkin efek memasuki dunia kerja, beberapa punya kesibukan masing-masing dan sulit menyesuaikan jadwal. Beruntung masih ada temen yang ayuk aja diajakin H-2, temen yang ayuk aja juga H-hitungan jam diajakin nonton Guardian of Galaxy vol. 2 wkwkk. Terima kasih telah menyelamatkan weekend saya dua minggu lalu.

Back to #FIB2017. Kami ikut bekerja pada hari kedua (30/04). Acara kali ini bertempat di Mall Kota Kasablanka. Setiba di sana, sempat berkeliling dulu, menebak-nebak di sudut mana kah gerangan acaranya bermuara. Ketika menemukan, komentar pertama, wah sepertinya tidak seramai 2013, mengingat wahana yang disuguhkan juga hanya empat.

Hari itu kami tiba sekitar jam 11. Kami sudah daftar on-line untuk sesi jam 10.00-12.00, akan tetapi belum transfer. Jadilah daftar on the spot lagi, ambil sesi jam 12.00-14.00. Setelah makan dan sholat zhuhur kami pun merapat ikut bekerja.

Makin siang peserta terlihat makin ramai. Wahana pertama yang kami sambangi keping pedia. Di wahana ini kami membuat semacam puzzle yang pada bagian belakangnya ditulisi pesan semangat. Saya ingat membuat puzzle bertema alat musik tradisional Indonesia, yang ditujukan untuk adik-adik rumah baca di suatu tempat yang saya lupa haha :x Tidak memakan waktu lama di wahana ini, kami pun ke wahana selanjutnya.

Yak, surat semangat! Wahana favorit saya, menuliskan surat atau lebih tepatnya membalas surat secara random untuk adik-adik yang telah berkirim surat untuk kakak-kakak relawan #FIB2017. Saya berkesempatan membalas surat dari Bunga Lestari, SDN 57 Ketam Putih, Bengkalis. Salam kenal, dik. Kapan-kapan, jika memang ada kesempatan, akan menyenangkan bisa berkunjung ke desa dan sekolah yang katamu indah :)

Setelah selesai membalas surat, sudah hampir jam 14.00. Di awal, kami mendaftar ikut wahana ular tangga di sesi berikutnya. Kami pun merapat ke panggung utama, ikutan flash mob, can't stop the feeling, sambil menunggu peserta wahana ular tangga berkumpul. Seperti apa wahana ini, I don't really know. Berhubung partner minat ikut, jadilah ikutan juga. Wahana ini berkelompok, waktu itu kelompok diacak berdasarkan warna baju, lalu tas, terakhir tahun lahir pfft. Sekilas gambaran wahana ini mengunjungi pos-pos yang merepresentasikan hint, pos nomor berapa sesuai hasil kocokan dadu, di tiap-tiap pos akan ada tantangan yang perlu diselesaikan.
Kelompok kami hanya berempat, mendapat nomor dadu 1. Semua buram dengan hint pos 1, sudah menjelajah lantai LG Kokas, berputar-putar dua kali, tapi tak kunjung menemukan pos yang merepresentasikan pendongkrak ekonomi Indonesia. Can you tell where is it in a Mall? We are clueless, sampai-sampai belanja di Carref*ur wkwkk. Fasil pun mendapat laporan bahwa ada peserta tersesat menemukan pos sehingga fasil menunggu di depan pos sambil bawa bendera mini. Selamat! Habis bayar di kasir kami pun menemukan fasil :D Kokas in weekend is no joke. Ramainya, sudah kayak cendol someone said.

You know what 'pendongkrak ekonomi Indonesia' looks like? UMKM saudara-saudara. Kebayang dong gimana susahnya mencari kumpulan UMKM di Mall. Hahaha. Ternyata lagi ada pameran kerajinan gitu di Kokas. Task di Pos 1, mencari dan menyebutkan toko di mana benda-benda yang disebutkan fasil berada. Kakak-kakak di kelompok kami sangat bersemangat setelah tersesat, wkwk, kami pun sukses mendapat kata kunci di pos ini, yakni Sabu Raijua.

Next, we move to Pos 6, di lantai 2, hint amazing world. Kami menemukan wahana bermain amazing, tapi tidak menemukan fasil dengan bendera mini. Ternyata fasilnya ada di depan wahana dekat eskalator. He said something really 'nice' after we met. Karena Pos 6 ada ularnya, jadi di pos itu tidak ada games, hanya mengambil kartu untuk turun ke pos berapa, wkwk. Kami pun menuju Pos 4 dengan hint kopi+kimchi+eskalator di lantai UG. Tidak sulit menemukannya karena sudah cukup familier dengan tempat makan di Kokas. Lagi-lagi fasil berada dekat eskalator daaan pos ini juga ada ularnya haha poor us. Sebelum ambil kartu turun ke pos berapa disuruh buat yel-yel dulu minimal 15 detik. Random banget lah. We got the feeling, yeah, ikut bekerja, let's dance dance dance, ikut bahagia, let's dance dance dance!

pejuang ular tangga

Kami pun turun lagi, ke Pos 2, pintar, cerdas, pandai di lantai LG. Sungguh ya, wahana ular tangga ini semacam energy drain. Walau sudah terbiasa keliling mall sekedar cuci mata atau belanja, tetep aja pegel bo. Naik turun eskalator. Menjelajah sana sini demi mencari Pos. We already know, di mana Pos 2: genius. Di sana ada game menyusun sepuluh files holder dalam satu menit. Kami gagal pada pos ini sehingga turun lagi ke Pos 1. Bertemu fasil yang sama, main game yang sama, mendapat kata kunci yang sama, dan dengan kebaikan hati fasil kami boleh lempar dadu lagi ketika dapat angka 5. Wkwk. Naiklah kami ke Pos 7, flormar di lantai UG.

Pos 7 ternyata tempat jualan kosmetik. Ada game pesan berantai di sana, dan peserta yang mendapat pesan terakhir diminta menyusun aneka kosmetik hasil pesan berantai. Berada di ekor rada-rada burdensome. Ingatan kuat tapi tak familier dengan kosmetik, ya podo wae, ketuker-tuker jadinya, wkwk. Berada di kepala juga walau familier dengan kosmetik bisa tertipu dengan aneka produk yang bentuknya membingungkan. Walhasil kami tetap mendapat kata kunci: Majene. Karena sesi ular tangga hampir berakhir, kami pun berhenti sampai di sana. Melihat-lihat kosmetik dan cerita-cerita dengan fasil.

Agak sedih melihat sedikitnya peserta laki-laki seloroh seorang fasil. Saya pun mengiyakan dalam hati. Mungkin bisa dibilang bisa dihitung jari loh. Entah apa yang terjadi. Sempat bahas rasio laki-laki perempuan Indonesia juga masih 101, lalu menyerempet ke mas alah jodoh. Pfft. Tenang jumlah laki-laki masih lebih satu diantara seratus perempuan. Jodoh pasti bertamu they said. Haha. Mengenai rasio laki-laki perempuan itu menyebar untuk semua range umur dan tempat gaes. Sepengetahuan saya, jumlah bayi laki-laki memang lebih banyak dibanding bayi perempuan. Namun, katanya perempuan cenderung dapat bertahan hidup lebih lama dibanding laki-laki. So, melihat rasio laki-laki perempuan saja tidak cukup, mesti dirinci hingga kelompok umur menurut hemat saya.

Well, sejujurnya dulu laki-laki kok yang share event FGIM 2013 hingga muncul di laman saya. Perkara sedikitnya peserta laki-laki sekarang, entahlah. Mungkin jika tahu ada Raisa tampil di acara sebelah bakal lebih banyak yang mampir ke Kokas :p Tapi, saya percaya masih banyak laki-laki baik di luar sana, laki-laki yang tidah mudah tergoda harta, tahta, dan Raisa :p So, jangan pernah lelah memperbaiki diri wahai perempuan baik. Okeskip.
Next, kami memasuki wahana terakhir, kotak cakrawala. Di wahana ini juga berkelompok sekitar enam orang. Akan ada fasil yang memandu buku-buku apa saja yang perlu kami kumpulkan untuk dikirimkan ke adik-adik penjuru nusantara yang membutuhkan. Buku beragam, dari buku mewarnai, buku cerita, novel, hinnga buku pelajaran. Butuh effort ekstra ketika memasukkan buku dalam kotak. Ratusan buku harus dimasukkan, untung punya satu man power :p

ikut bekerja, ikut bahagia :)

Jumat, 21 April 2017

way back home

"Then I smell a familiar scent and hear a familiar sound." - AKMU
You choose such a good date to go home. Meninggalkan ibukota di tengah riuhnya putaran kedua. I can’t participate in election anyway. But, may Muslim leaders be elected. Semoga ya, semoga hasil quick count-nya sesuai.

Well, I just wanna go out from Jekardah for a while. Life these days is getting rough. Exhausted, I need an escape. Dan ya, I’m glad my ‘home’ still same. Sekarang ketika libur, saya prefer pulang daripada jalan-jalan. Sesuka apapun saya dengan travelling, kadang mendengar ocehan orang tua jauh lebih membahagiakan. Kita tidak pernah tau sampai berapa lama lagi kita bisa membersamai mereka. Taman bermain, pantai, gunung bisa menunggu. So, go home fellas.

Pulang kali ini saya tidak membawa buku bacaan, jadi tidak ada review. Barangkali ada yang nyariin :p Pulang kali ini membawa sejumlah beban pikiran seperti pulang akhir tahun lalu, bedanya beberapa sudah memperoleh jawaban. Feeling relieved, meskipun awalnya kalut-marut. Sangat penting mengambil keputusan ketika sober, not overwhelming. Berusaha segera, tapi tidak tergesa-gesa. Sisanya, biarkan semesta bekerja.

Selamat hari Kartini!

Selasa, 11 April 2017

another perspective

"Ingat, selalu ada hal-hal bahagia yang bisa kita rengkuh. Sekecil apapun, tumbuhkan. Kumpulkan remah-remah bahagia itu. Sampai sakumu penuh. Dipenuhi syukur.
Beri ruang pada hati yang sedang biru untuk memahami bahwa setelah kesulitan, pasti ada kemudahan.
Semua akan terlewati dengan baik-baik saja. Jangan khawatir." - ajinurafifah
Hari kesekian dua minggu lalu di Kendari tergelitik tulisan Selalu Ada Bahagia yang Bisa Disyukuri karya mbak Apik. Betapa punya sahabat yang rela jauh-jauh hujan-hujanan mendatangi, pun bersedia direpotkan ini itu patut disyukuri. Betapa punya teman yang selelah-lelahnya tetap menyempatkan menyebrang untuk berkunjung patut disyukuri. Betapa punya teman-teman baru kenal yang bersedia menemani makan ataupun jalan-jalan patut disyukuri. Sungguh, selalu ada bahagia yang bisa disyukuri.

Hari pertama yang melelahkan pun hari-hari berikutnya, tumpukan surat cinta penggantian sampel, hingga menunda rencana pulang bulan lalu. Mungkin ini yang namanya bahagia yang satu digantikan bahagia yang lain. Tetap ada kepingan-kepingan bahagia yang bisa kamu pungut, seruwet apapun kehidupanmu. Pernah dengar istilah bahagia itu pilihan? Maka pilihlah untuk bahagia. Selamat tinggal frasa bahagia yang tertinggal di masa lalu. Di masa sekarang, pun di masa yang akan datang mungkin kamu bisa bahagia. Apalagi kalau sudah menemukan jawab ya, jawaban atas doa-doa yang kamu gantungkan di langit. Kemudian vanish into thin air *abaikan.

Satu hal lagi yang ingin saya bagi. Fyi, jalanan ibukota sedang tidak sehat. Betapa menyedihkan lembar presensi saya minggu lalu, hingga puncaknya Jumat lalu perjalanan pulang mencapai tiga jam. Gils. Kalau di rumah mungkin sudah bisa tengok ponakan baru. Ah, ada perasaan ingin rehat dari ibukota ini dan kembali setelah pembangunan selesai saja. Tapi ya, setelah mendengar sudut pandang lain kenapa pembangunan serentak di berbagai titik ibukota ini perlu digalakan, membuat saya cukup lapang hampir satu jam berdiri dalam bis menunggu bisa menyebrang menuju Matraman hari berikutnya.

Penebalan jalan, pembangunan jembatan double-double track, pembangunan LRT, flyover dan proyek lainnya membuat macet parah di berbagai titik. Pengguna jalan (termasuk saya) tentu lelah dan banyak mengeluh. Ingin mengubah rute, tapi di ruas jalan lain pun belum tentu bebas macet. Di tengah keriuhan politiknya, pembangunan ini memang harus dimulai, proyek-proyek yang tidak disukai banyak orang ini pun harus tetap berjalan demi perbaikan. Kita sebagai pengguna jalan harus ekstra sabar dan harus banyak-banyak melapangkan dada. Semoga kedepannya sarana dan prasarana transportasi ibukota semakin baik.

Minggu, 02 April 2017

Letters to Karel

Judul: Letters to Karel
Penulis: Nasrul Anwar
Penerbit: - (self publishing)
Terbit: 2014
Tebal: 220 halaman

Jika kamu membaca surat-surat ini kelak, entah di bilangan berapa usiamu menginjak, surat ini hanyalah salah satu cara abi untuk mengenalkan ummi kamu, Karel. Bukan karena ummi perempuan terbaik, masih banyak jutaan perempuan di luar sana yang jauh lebih baik daripada ummi. Tapi agar kamu bisa selalu berbakti kepadanya, Sayang. Walaupun tidak bisa secara langsung, setidaknya dengan meneladani kebaikan-kebaikannya, dengan berusaha sebisa mungkin untuk menjadi anak yang baik lagi sholeh. Karena tak ada cara terbaik untuk membalas kebaikan orangtua, selain dengan menjadi anak yang sholeh/ah. Karena anak yang soleh/ah akan selalu menjadi investasi orangtua sampai di akhirat nanti.
***
Kisah nyata perjuangan seorang ibu yang melahirkan anaknya hingga meregang nyawa, perjuangan seorang ayah yang membesarkan bayinya tanpa seorang ibu dan betapa indahnya rencana Tuhan di balik itu.

Sudah cukup lama buku titipan ini berada di rak buku saya. Tertarik membacanya simply karena terlanjur suka dengan buku kedua penulis yang terlebih dulu saya baca (review menyusul :D). Buku ini berisi kumpulan surat inspiratif seorang ayah untuk anaknya. Perlu waktu yang cukup lama bagi saya untuk menyelesaikan buku ini, sebab lembar demi lembarnya perlu diresapi dan direnungkan. Buku ini pun menemani perjalanan saya ke Kendari minggu lalu. Tak disangka saya bisa langsung mengantarkan buku ini ke pemiliknya.

Ketika membaca buku kedua saya sempat bertanya-tanya, apakah istrinya sudah meninggal? Dan pertanyaan itu pun terjawab selepas membaca buku ini. Sangat sulit sekedar tidak berkaca-kaca membaca buku ini. Betapa tidak mudah perjuangan seorang ayah yang membesarkan bayinya seorang diri. Mungkin benar kata Salim A. Fillah: sebelum menikah, grafik hidup kita analog dengan amplitudo kecil. setelah menikah, ia digital variatif. Sebelum menikah, sumber utama kegamangan mungkin mengenai masa depan atau memilih pasangan hidup. Setelah menikah, mungkin akan jauh lebih variatif lagi. Entahlah. Sebelum racauan ini makin menjurus, saya bagikan quotes saja di sini.
"Mau tidak mau, cepat atau lambat, orang di sekitar kita akan pergi, berganti dengan orang yang baru. Atau diri kita sendiri yang harus pergi, hidup di tempat dan suasana baru. Jangan khawatir Sholeh, karena hidup bukanlah tentang bersama siapa kita menjalaninya, tapi bagaimana kita menjalaninya. Siapapun orang yang membersamai kita, jika kita berusaha untuk menjalaninya dengan baik, maka hidup kita juga akan berjalan baik, Sayang. Hidup kita harus dan akan terus berjalan; bersama siapapun, di tempat manapun, tapi tidak sampai kapanpun." - hlm. 40-41
"Di dunia ini, masih banyak orang yang lebih susah daripada kita, Sayang. Masih banyak orang yang memiliki ujian yang berkali-kali lipat besarnya daripada ujian yang kita punya. Jadi jangan pernah merasa sebagai orang paling susah sedunia, merasa kurang beruntung, sedih, mengeluh, dan sebagainya yang berlebihan. Karena sekali lagi, di luar sana, masih banyak orang yang lebih layak untuk bersedih daripada kita, tapi mereka masih bisa merasa bahagia. Masih banyak orang yang lebih layak mengeluh daripada kita, tapi mereka masih tetap bersyukur. Masih banyak orang yang lebih layak berputus asa daripada kita, tapi mereka masih tetap berjuang. Masih banyak orang yang lebih susah daripada kita, tapi mereka masih tetap bersabar." - hlm. 125
"Selalu ada kemudahan untuk orang-orang yang bersungguh-sungguh, Sayang. Dalam hal apapun itu. Masalahnya terkadang kita harus diuji dulu, untuk mengetahui seberapa sungguh-sungguh kita menginginkan sesuatu dan mengusahakannya. Banyak orang yang gagal dalam ujian kesungguhan. Belum selesai, tapi terburu-buru menginginkan kemudahan. Padahal bisa jadi kita memang belum sampai pada puncak kesungguhan kita. Padahal bisa jadi, kita memang belum layak mendapatkan hadiah kemudahan itu. Saat suatu hari nanti hidup kamu terasa sulit, artinya pada saat itu kamu harus meningkatkan kesungguhan kamu. Karena kesungguhan adalah jembatan penyebrangan, dari kesulitan menuju kemudahan." - hlm. 174
"Dalam hidup ini sebenarnya kita hanya akan menghadapi dua hal, Karel; apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang tidak bisa kita kendalikan. Apa yang bisa kita kendalikan harus kita ikhtiarkan semaksimal mungkin, dan apa yang tidak; harus kita terima dengan selapang mungkin. Usaha kita, perjuangan kita, pengorbanan kita adalah apa yang bisa kita kendalikan. Sedangkan hasilnya tidak bisa kita kendalikan, Allah yang lebih berhak menentukan, Allah yang lebih tahu mana yang terbaik bagi kita." - hlm. 185

Kamis, 16 Maret 2017

Cinta yang Baru

Judul: Cinta yang Baru
Penulis: Ahimsa Azaleav
Penerbit: Lampudjalan
Terbit: 2017
Tebal: 148 halaman

Di luar sana, banyak kisah cinta tentang penantian berujung pertemuan. Tentang kisah memendam cinta yang terungkap dengan kata saling. Tentang janji yang ditepati. Lalu terjadilah perayaannya. Tapi tidak tentang kita. Kisah penantian kita masing-masing yang dulu kita impikan nyatanya tak sempat menjadi cerita. Aku dengan kisah pilu patah hatiku ditinggalkan. Kamu dengan kisah magis merelakan cinta yang harus kautinggalkan. Kamu dan aku adalah dua orang yang sama-sama tak bisa merengkuh cinta yang kita nanti. Tapi kamu dan aku adalah dua hati yang sama-sama kuat untuk mau kembali berdiri lalu saling mencari. Karena barangkali apa yang dulu kita nanti bukanlah apa yang sejatinya ditulis takdir.

Kamu dan aku (yang saat itu belum menjadi kita) terus mencari tanpa pernah tahu bagaimana akan menemukan. Kamu dan aku terus berharap tanpa punya apa-apa selain doa. Kadang kamu merasa menemukan apa yang kaucari. Kadang aku merasa ditemukan apa yang kunanti. Tapi tak pernah ada kata saling. Lalu entah sinyal apa yang memancar, kamu dan aku justru dipertemukan saat kita berhenti mencari.

***

Buku ini menjadi teman perjalanan saya ke Bandung yang ke sekian. Karena promosi salah satu foto di akun insta penerbit, tetiba tertarik menculik buku ini dari parcel seorang teman. Membaca lembar-lembar pertama bab buku ini membuat saya membatin bahwa bacaan saya mulai 'tidak sehat'. Pfft. Namun, terbilang jauh lebih normal dibanding bekal bacaan saya di Wonosobo dulu :v

Kesan pertama setelah menamatkan buku ini, kagum bahwa penulis berani menceritakan kehidupannya. Membaca buku ini seolah membaca diary penulis. Begitu jujur. Entah kapan saya bisa menulis tanpa sandi di sana-sini :p
"Betapa aku sadar aku hanya perempuan biasa, yang barangkali 70% dari diriku dikuasai oleh darah melankolis dan sisanya adalah absurditas, banyak mau, kekonyolan, dan entah apa lagi yang mampu membuatku penasaran dan memikirkan banyak hal." - hlm. 10
Sungguh ada momen ketika otak saya memberi sinyal untuk berhenti membaca, But, my heart trying so hard to compromise. Tidak ada salahnya membaca true story kan ya? Dulu, Abah selalu protes ketika anaknya suka membaca kisah khayalan orang lain, lalu selalu mengakhirinya dengan arahan untuk menulis cerita sendiri. Sepuluh tahun berlalu, anaknya masih suka membaca, tapi insya Allah anaknya ini bisa menyaring apa-apa yang memang baik dan patut dipertahankan. Semoga kebaikan senantiasa menyertai Abah. Semoga Allah selalu menjaga Abah. I (always) wanna go home and meet you in a good shape. Semandiri apapun sekarang, tetap rindu akan ceramah Abah. I'm not fully ready if there is someone wanna take your responsibility as his.
"Perasaan hampir menyerah itu wajar, tapi jangan pernah sekalipun benar-benar menyerah. Karena yang kita kejar adalah kebahagiaan sejati, maka perjuangan yang kita lakukan pun adalah perjuangan sejati." - hlm. 31-32
Satu hal lagi yang saya soroti dari buku ini, tentang passion. Perjuangan di jalan passion memang tidak mudah. Apalagi untuk seorang perempuan yang memiliki passion tidak biasa, yang sulit dicerna. Maju satu langkah, mundur dua langkah. Mari kita nikmati saja prosesnya, toh usaha tidak akan mengkhianati hasil. Semangat berjuang, wahai Pejuang Passion!

Luruskan niat, Percayalah bahwa Allah penulis skenario terbaik. Siapkan bekal. Segera boleh, tapi jangan tergesa-gesa, sekalipun ada proses yang menawarkan kebahagiaan. Tawaran yang cukup menggiurkan bagi perempuan yang katanya bahagianya tertinggal di masa lalu. Namun, tetap saja perlu dipertimbangkan dengan matang.